Skip to main content

LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha

Tumbuhkan Cinta & Yatim Dhufa Kreatif Melalui Rydha Camp

Pendidikan tak hanya dengan duduk di bangku sekolah saja, pengalaman, keterampilan dan kreatifitas adalah bagian penting terlebih bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Mari kita tumbuhkan cinta & yatim dhufa menjadi kreatif, tangguh, disiplin dan bertaqwa melalui Rydha Camp, 

Tumbuhkan Cinta & Yatim Dhufa Kreatif Melalui Rydha Camp

LAZ RYDHA – Rumah Yatim Dhuafa

[mgodonation_total form="CF6110f18bcc842" width="auto" target="205000000" date="10-09-2021"]
[caldera_form_modal id="CF6110f18bcc842" type="button"]SEDEKAH SEKARANG[/caldera_form_modal]

Mari Ajak Sahabat Lainnya :

Program lainnya

Kuatkan dan Bahagiakan Yatim Terdampak Covid-19 Dengan Santunan Terbaikmu di Muharram

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan mengakibatkan mereka harus kehilangan orang tua, dimoment tahun baru Islam 1443 H ini, mari kita bahagiakan yatim dengan memberikan santunan agar terciptanya senyum bahagia bagi mereka.

Bahagiakan Yatim Dengan Santunan Terbaikmu di Bulan Muharram

LAZ RYDHA – Rumah Yatim Dhuafa

[mgodonation_total form="CF6110f465bb234" width="auto" target="20000000" date="10-09-2021"]
[caldera_form_modal id="CF6110f465bb234" type="button"]SEDEKAH SEKARANG[/caldera_form_modal]

Mari Ajak Sahabat Lainnya :

Program lainnya

Doa Untuk Negeri Bersama Yatim & Dhuafa Penghafal Qur’an – Gebyar Senyum Muharram


Indonesia kini masih diterpa musibah, pandemi masih menggerogoti tanah air tercinta hingga ini, mari kita berdoa bersama yatim dhuafa penghafal Qur’an untuk kita dan omg
negeri Indonesia tercinta.

Gebyar Senyum Muharram

Doa Untuk Negeri Bersama Yatim & Dhuafa Penghafal Qur’an

LAZ RYDHA – Rumah Yatim Dhuafa

[mgodonation_total form=”CF6110da046a4df” width=”auto” target=”10000000″ date=”10-09-2021″][caldera_form_modal id=”CF6110da046a4df” type=”button”]SEDEKAH SEKARANG[/caldera_form_modal]

Mari Ajak Sahabat Lainnya :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

  • Informasi
  • Donatur
  • Implementasi

Nikmatnya Berdoa Bersama di Bulan Istimewa

Bulan ini merupakan awal pergantian tahun hijriah, sebuah nikmat umur yang Allah berikan kepada kita untuk mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat, Muharram adalah bulan istimewa dan para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadan. Banyak sekali kemuliaan yang kita bisa raih, Kita sebagai manusia tentu harus memanfaatkan momentum tersebut dengan perbanyak beramal sholeh dan berdoa kepada-Nya.

Allah sudah siapkan apa yang kita doakan, Allah mendengar lebih dari yang kita ucapkan, menjawab lebih dari yang kita pinta, dan memberi lebih dari yang kita bayangkan dengan waktu dan cara-Nya sendiri. Jangan sampai terlupa untuk senantiasa berdoa dan mendoakan kebaikan untuk kamu, kita semua dan untuk negeri ini.

Ayo, kita bangkitkan lagi semangat kebaikan, bangkitkan lagi semangat berbagi, di bulan Muharram ini, di tengah ketidakpastian pandemi. Para yatim dan dhuafa, membutuhkan uluran tangan kita.

InsyaAllah Kami akan menyelenggarakan kegiatan “Doa Untuk Negeri” bersama dengan para yatim dan dhuafa. Acara ini akan dilaksanakan bersama adik-adik yatim dan dhuafa pesisir pantai Tangerang Utara. Tidak hanya berdoa bersama, rangkaian acara akan terdiri dari, santunan pendidikan, kajian dan games, dan acara utama berdoa bersama. Semoga dunia lekas pulih dan kembali berseri.

Mari bersama berpatisipasi dalam kegiatan “Doa Untuk Negeri Bersama Yatim dan Dhuafa Penghafal Qur’an” dengan donasi terbaikmu :

  1. Klik tombol “SEDEKAH SEKARANG”
  2. Pilih nominal donasi
  3. Isi biodata: Nama lengkap, No Whatsapp, Email, Doa atau Harapan.
  4. Pilih metode pembayaran
  5. Klik tombol “DONASI”
  6. Dapatkan laporan via email

Silahkan untuk share juga halaman ini agar lebih banyak doa dan sedekah yang terkumpul. aamiin

Donasi (5 Donatur)Siti5 bulan yang lalu Donasi 10.828BshsnkwbAnonim5 bulan yang lalu Donasi 50.801Semoga dapat membantuAnonim5 bulan yang lalu Donasi 30.413Semoga segera diberikan Keturunan.. semoga sehat selalu dan lancarkan rezekinyaAnonim5 bulan yang lalu Donasi 50.515Smoga kita semua sehat. Dilancrkan dalm segala usaha dan sll dlm lindungan AllahAbdul Azis Hady5 bulan yang lalu Donasi 100.841Semoga Covid 19 segera berlalu dan Yayasan Rydha semakin berkembang, semakin besar dan semakin banyak memberikan maaf kepada umat

Tahun Baru Islam 1443 H, LAZ RYDHA Menggelar Acara Do’a Untuk Negeri bersama Santri Yatim Dhuafa SMPTQ RYDHA

Pada Rabu (11/7) LAZ RYDHA bersama Santri Yatim Dhuafa SMPTQ RYDHA menggelar Acara Do’a Untuk Negeri yang bertempat di Aula SMPTQ RYDHA. Acara ini dibarengi dengan Perayaan Tahun Baru Islam 1443 H.

Acara ini adalah bentuk kepedulian LAZ RYDHA terhadap kondisi Negeri yang masih terjadi Pandemi dan berharap agar Pandemi ini segera berhenti sehingga negeri utuh sehat kembali.

Acara Do’a untuk negeri ini memiliki rangkaian kegiatan Sambutan dari Direktur LAZ RYDHA, Hiburan Marawis dan Hadroh, Lomba Pidato, Lomba Sambung Ayat, Santunan Yatim dan diakhiri dengan Muhasabah serta Do’a bersama yang dipimpin oleh Ustad Hizbullah selaku pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an RYDHA.

Selain untuk mendo’akan Negeri dari Pandemi tujuan lain dari Acara do’a untuk negeri ini adalah agar santri-santriwati Ponpes Tahfidz Qur’an RYDHA memiliki keberanian dan mengasah ilmu-ilmu yang telah di pelajari.


SEDEKAH SEKARANG

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Video

Program lainnya



Wakaf Gedung Sekolah Gratis Yatim & Dhuafa Hafizh Qur’an

Hal Yang Wajib Kamu Tahu Tentang Puasa Tarwiyah

Hal Yang Wajib Kamu Tahu Tentang Puasa Tarwiyah

Hukum Puasa Tarwiyah

Adakah tuntunan puasa hari tarwiyah? Hari tarwiyah yaitu tanggal 8 Dzulhijjah.

Dalil Anjuran Puasa Tarwiyah

Dalil yang menjadi pegangan anjuran puasa tarwiyah, 8 Dzulhijjah,

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين (أبو الشيخ ، وابن النجار عن ابن عباس)

“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa dua tahun.” Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas.

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih. Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).

Jika hadits di atas adalah dho’if (lemah), maka berarti tidak boleh diamalkan dengan sendirinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh bersandar pada hadits-hadits dho’if (lemah) yang bukanlah hadits shahih dan bukan pula hadits hasan. Akan tetapi, Imam Ahmad bin Hambal dan ulama lainnya membolehkan meriwayatkan hadits dho’if dalam fadhilah amal selama tidak diketahui hadits tersebut shahih atau hadits tersebut bukan diriwayatkan oleh perowi pendusta. Namun boleh mengamalkan isinya jika diketahui ada dalil syar’i yang mendukungnya. Jika haditsnya bukan diriwayatkan oleh perowi yang pendusta, boleh jadi pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut benar. Akan tetapi, para ulama katakan bahwa tidak boleh menyatakan wajib atau sunnah pada suatu amalan dengan dasar hadits dho’if. Jika ada yang mengatakan bolehnya, maka dia telah menyelisihi ijma’ (kata sepakat para ulama).” (Al Majmu’ Al Fatawa, 1: 250-251)

Masih Bisa Berpuasa Tanggal 8 Dzulhijjah Jika ….

Masih bisa berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah namun bukan berdasarkan hadits yang penulis sebutkan di atas, namun karena mengingat keutamaan beramal di awal Dzulhijjah dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan yang dikerjakan saat itu. Ditambah ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk berpuasa pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim). Mengenai hadits ini, Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sepuluh hari awal Dzulhijjah seluruhnya adalah hari yang mulia dan dimuliakan, di dalamnya dilipatgandakan (pahala) amalan dan disunnahkan bersungguh-sungguh ibadah pada waktu tersebut.” (Al Mughni, 4: 443).

Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.

Lebih-lebih puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah punya keutamaan yang besar daripada puasa awal Dzulhijjah lainnya. Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Semoga bermanfaat.

Sumber : Muhammad Abduh Tuasikal, www.rumaysho.com

Mari Lebih Dekat Dengan Rasulullah
Dengan Peduli Anak Yatim

tutup aktiivitas dengan amalan dzikir dan sedekah

Dari Ummu Said  binti  Murrah Al-Fihri, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

“Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 133, hadits ini sahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 800).

Sumber : Rumaysho.com

Baca Juga :

Share

Sudah Tahu Belum? Keutamaan Puasa Arafah dan Faedah Haditsnya

Sudah Tahu Belum? Keutamaan Puasa Arafah dan Faedah Haditsnya

Pada hari tarwiyah, 8 Dzulhijjah kali ini, kita akan pelajari tentang satu hadits saja yang membicarakan keutamaan puasa Arafah, 9 Dzulhijjah. Moga jadi pelajaran berharga di dalamnya pada Jumat kali ini.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)

Apa saja faedah penting dari hadits puasa Arafah?

Pertama: Hadits ini menunjukkan keutamaan  dari puasa Arafah, dan besarnya pahala puasa tersebut pada sisi Allah karena disebutkan pahalanya adalah menghapuskan dosa dua tahun.

Kedua: Puasa Arafah diperintahkan kepada orang yang tidak berhaji sedangkan orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melakukan puasa ini, bahkan yang sesuai sunnah mereka (jamaah haji) tidak berpuasa Arafah karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Boleh melakukan puasa Arafah pada hari Jumat walaupun berpuasa pada hari Jumat saja tanpa diikuti dengan puasa pada hari sebelum dan sesudahnya. Begitu pula boleh berpuasa pada hari Sabtu walau bersendirian karena puasa Arafah pada hari Sabtu adalah puasa yang punya sebab.

Keempat: Dosa yang terampuni adalah dosa kecil (ash-shaghair). Adapun dosa besar (al-kabair) seperti zina, maka riba, sihir, dan lainnya mesti dengan taubat untuk menghapusnya, tidak cukup dengan melakukan amalan saleh semata. Demikian pendapat dari jumhur atau kebanyakan ulama. Namun Syaikhu Islam Ibnu Taimiyah masih berpendapat pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil dan dosa besar, sebagaimana bahasan beliau dalam Majmu’ah Al-Fatawa, 7:489.

Kelima: Disunnahkan bagi setiap muslim untuk semangat berdoa pada hari Arafah karena berharap doa-doanya diijabahi (dikabulkan), karena kondisi orang yang berpuasa juga adalah kondisi mustajabnya doa. Doa ketika berbuka puasa juga adalah doa yang lebih mudah untuk dikabulkan.

Keenam: Disunnahkan bertakbir bakda shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga hari tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah, pada waktu Ashar). Ucapan takbirnya adalah: ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, WA LILLAHIL HAMD.

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, “Hadits apa yang mendukung amalan takbir dari shalat Shubuh pada hari Arafah hingga hari tasyrik yang terakhir?” Jawab beliau, “Dalilnya adalah ijmak (kata sepakat para ulama), didukung dengan pendapat ‘Umar, ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum. Lihat Al-Mughni, 3:289,; Al-Majmu’ Imam Nawawi, 5:35; Irwa’ Al-Ghalil, 3:125.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “

غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَاتٍ مِنَّا الْمُلَبِّى وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ

“Kami pagi-pagi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mina menuju Arafah, di antara kami ada yang bertalbiyah dan di antara kami ada yang bertakbir.” (HR. Muslim, no. 1284)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

أَصَحُّ الْأَقْوَالِ فِي التَّكْبِيرِ الَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ السَّلَفِ وَالْفُقَهَاءِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالْأَئِمَّةِ : أَنْ يُكَبِّرَ مِنْ فَجْرِ يَوْمِ عَرَفَةَ إلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ عَقِبَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Pendapat yang paling tepat dalam waktu bertakbir yang dipegang oleh jumhur salaf dan fuqoha dari kalangan sahabat dan ulama madzhab, adalah dari waktu fajar pada hari Arafah hingga hari tasyrik terakhir setiap bakda shalat.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 24:220-222)

Sumber : www.rumaysho.com 

Mari Lebih Dekat Dengan Rasulullah
Dengan Peduli Anak Yatim

tutup aktiivitas dengan amalan dzikir dan sedekah

Dari Ummu Said  binti  Murrah Al-Fihri, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

“Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 133, hadits ini sahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 800).

Sumber : Rumaysho.com

Baca Juga :

Share

Semangat Yah Dik Belajarnya! Paket Perlengkapan Sekolah Untuk Yatim

Penyaluran Paket Multivitamin Untuk Anak-anak Yatim

Tangerang (14/7/2020) LAZ RYDHA menyalurkan paket perlengkapan sekolah kepada anak-anak yatim binaan Rydha berupa seragam, sepatu, alat tulis, tas dan keperluan lainnya sesuai dengan kebutuhan mereka di jenjang sekolahnya masing-masing.

Kegiatan berbagi Paket Perlengkapan Sekolah ini adalah kegiatan rutin setiap tahunnya kepada yatim binaan LAZ RYDHA, semoga dengan apa yang diberikan memberikan manfaat dan semakin semangat untuk belajar lebih giat lagi

“Terima kasih donatur Rydha, Fadhlan bisa pakai sepatu, seragam dan perlengkapan sekolah baru” ujar Fadlan salah satu yatim binaan.

Hukum dan Cara menghitung Zakat Penghasilan / profesi yang benar

Hukum dan Cara menghitung Zakat Penghasilan / profesi yang benar

Tentang

Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan atau yang dikenal juga sebagai zakat profesi; zakat pendapatan adalah bagian dari zakat mal yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan / penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar syariah. Nishab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun. Kadar zakat penghasilan senilai 2,5%

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat ditunaikan setiap bulan dengan nilai nishab perbulannya adalah setara dengan nilai seperduabelas dari 85 gram emas (mengikuti harga Buy Back emas pada hari dimana zakat akan ditunaikan), dengan kadar 2,5%. Jadi apabila penghasilan setiap bulan telah melebihi nilai nishab bulanan, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari penghasilannya tersebut

Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nishab, maka hasil pendapatan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Nishab Zakat Penghasilan85 gram emas
Kadar Zakat Penghasilan2,5%
Haul1 tahun

Cara menghitung Zakat Penghasilan:

2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 bulan

Contoh:

Jika harga emas pada hari ini sebesar Rp800.000/gram, maka nishab zakat penghasilan dalam satu tahun adalah Rp68.000.000,-. Penghasilan Bapak Fulan sebesar Rp10.000.000/ bulan, atau Rp120.000.000,- dalam satu tahun. Artinya penghasilan Bapak Fulan sudah wajib zakat. Maka zakat Bapak Fulan adalah Rp250.000,-/ bulan.

Tunaikan zakat penghasilan anda ke LAZ RYDHA dengan cara klik di sini

(Sumber: Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi).

RELATED ARTICLE

Ini Dia 12 Hikmah Sedekah yang Jarang Orang Tahu

Ini Dia 12 Hikmah Sedekah yang Jarang Orang Tahu

Seperti pepatah yang mengatakan jika lebih baik tangan diatas dibandingkan dibawah menjelaskan jika sedekah dalam Islam merupakan sebuah tindakan yang penting untuk dilakukan khususnya jika termasuk golongan orang mampu. Agama Islam sendiri juga sudah memerintahkan untuk saling tolong menolong pada sesama manusia dalam kebaikan dan sedekah yang bisa dilakukan diantaranya adalah zakat yang terkandung banyak manfaat zakat fitrah didalamnya serta qurban.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali dari bisikan-bisikan orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kebaikan atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar”. [An Nissa ayat 114]

  1. Memperkuat Iman

Ibadah menjadi sarana pengabdian hamba terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sedekah dalam Islam menjadi salah satu perintah untuk semua umat muslim. Bersedekah yang dilakukan dengan niat ibadah pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan semakin menguatkan iman pada Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

  1. Meningkatkan Empati Sosial

Sedekah merupakan proses memberikan apa yang kita miliki baik dari materil ataupun non materil pada orang yang membutuhkan. Bersedekah tersebut tidak hanya dilakukan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan namun juga melatih rasa empati kita pada orang lain khususnya pada penerima zakat atau sedekah tersebut.

  1. Menghindari Sikap Kikir/Pelit

Salah satu sifat buruk yakni kikir harus sangat dihindari sebab sebagai makhluk sosial, sudah tidak seharusnya kita memiliki sifat sombong dengan beranggapan jika yang kita miliki adalah karena hasil usaha kita saja tanpa menyadari campur tangan Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal tersebut. Hal buruk ataupun baik yang terjadi pada diri kita harus disadari jika terdapat campur tangan dari Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga campur tangan dari orang lain sehingga keutamaan bersedekah yang kita lakukan akan menjauhkan kita dari sikap yang kikir.

  1. Menyembuhkan Penyakit

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat dalam Islam, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah!” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam sudah bersabda jika kita sebagai manusia harus membentengi harta dengan cara berzakat atau sedekah sebab dengan cara ini maka penyakit bisa disembuhkan.

  1. Meringankan Sakratul Maut

Tidak hanya pahala sedekah di hari Jumat yang bisa kita lakukan, namun dengan melakukan sedekahsesering mungkin, ini mengartikan kita juga memperingan kepedihan yang kelak akan kita rasakan saat sakratul maut sebab dengan sedekah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghilangkan perasaan dan sifat sombong dalam Islam dan egois orang yang melakukan sedekah tersebut.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois.” (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

  1. Mengabulkan Hajat

Selain dengan cara banyak keutamaan shalat hajat, untuk anda yang memiliki hajat tertentu dan ingin segera dikabulkan, maka cara yang bisa ditempuh adalah melakukan sedekah.

“Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari kecepatan gerakan sedekahnya.” (Hadist Qudsi)

  1. Menjauhkan Bencana

Sedekah juga akan memberikan hikmah yang luar biasa bagi pelakunya yakni menjauhkan diri orang tersebut dari segala macam bahaya sekalipun pelaku sedekah tersebut adalah seorang pendosa, kafir bahkan zhalim dan bisa menghadapi musibah dalam Islam dengan baik sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjauhkan bencana dari orang yang melakukan sedekah tersebut.

  1. Memperbanyak Rezeki

Meskipun kita mengeluarkan sedekah berupa materil atau non materil, namun ada hikmah berharga yang bisa kita dapatkan yakni mendapatkan rezeki yang lebih banyak lagi karena perbuatan sedekah tersebut dan diikuti juga dengan dzikir pembuka rezeki

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)

  1. Memperoleh Naungan Hari Kiamat

Hal yang perlu diingat adalah naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat menurut Islam kelak merupakan sedekah yang sudah dilakukan.

“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484)

  1. Menghapus Dosa

Sedekah juga akan menghapus dosa besar dalam Islam yang sudah kita perbuat meskipun dosa tersebut tidak dihapuskan begitu saja tanpa disertai dengan  perbuatan yang baik dan juga taubat.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).

  1. Pemisah Diri Dari Neraka

Bersedekah yang tidak hanya bisa dilakukan dengan memberikan uang namun juga pakaian, makanan dan hal lainnya akan menjadi pemisah kita dengan api neraka saat kiamat datang.

Nabi bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma“. (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Memperpanjang Umur

“Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su’ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri“. (HR. Thabrani).

Sedekah yang kita lakukan tanpa disadari akan menambahkan umur kita sekaligus mencegah kita mengalami kematian yang buruk sekaligus menghilangkan berbagai sifat tidak baik yang ada dalam diri kita.

Sebenarnya, dalam bersedekah ada lima perkara yang terdapat didalamnya yakni menambah kekayaan, menjadi obat penyakit, menghindarkan diri dari bahaya, akan melewati jembatan shiratal mustaqim dan juga akan masuk surga tanpa perlu dihisab dan mendapat siksaan sehingga bersedekah sudah sepantasnya dilakukan untuk memperoleh banyak pahala didalamnya.

Alhamdulillah kita sudah tahu 12 hikmah sedekah, dalam kesempatan ini mari sahabat kita berikan infak sedekah terbaik, Semoga Allah semakin sayang dan menerima sedekah kita, Aamiin.

Mari Lebih Dekat Dengan Rasulullah
Dengan Peduli Anak Yatim

tutup aktiivitas dengan amalan dzikir dan sedekah

Dari Ummu Said  binti  Murrah Al-Fihri, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

“Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 133, hadits ini sahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 800).

Sumber : Rumaysho.com

Baca Juga :

Share

Berikut Alasan Kamu Dianjurkan Banget Puasa Sunnah Syawal

Berikut Alasan Kamu Dianjurkan Banget Puasa Sunnah Syawal

Lima Faedah Puasa Syawal

Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal. Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.

Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]

Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »

“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”[4] Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.

Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:

  1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
  2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
  3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
  4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.

Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib

Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]

Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[8]

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]

Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!

Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, ”Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.

Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah

Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!

Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”[11] Sampai-sampai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah radhiyallahu ’anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”[12]

Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.

Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: ”Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”[13]

Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja [14]

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.

Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ’ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.

Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,

بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها

“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

”Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).”[15]

Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).[16] Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]

Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, ”Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”[18]

Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Yuk Awali Kebaikan DI Bulan Syawwal
Lebih Dekat Dengan Rasulullah
Dengan Peduli Anak Yatim

tutup aktiivitas dengan amalan dzikir dan sedekah

Dari Ummu Said  binti  Murrah Al-Fihri, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا وَكاَفِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ -شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى أَوِ الَّتِيْ يَلِيْ الإِبْهَامُ

“Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti kedua jari ini atau bagaikan ini dan ini.” [Salah seorang perawi Sufyan ragu apakah nabi merapatkan jari tengah dengan jari telunjuk atau jari telunjuk dengan ibu jari]. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 133, hadits ini sahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 800).

[1] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori

[2] Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.

[3] QS. Al An’am ayat 160.

[4] HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1007.

[5] Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani,3/6, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah dan Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

[6] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]

[7] -idem-

[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]

[9] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.

[10] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141

[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.

[12] HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.

[13] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 394-395.

[14] Pembahasan berikut kami olah dari Latho-if Al Ma’arif, hal. 396-400

[15] HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783

[16] Latho-if Al Ma’arif, hal. 398.

[17] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah

[18] Latho-if Al Ma’arif, hal. 399.

Sumber : Rumaysho.com

Baca Juga :

Share