LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha

Alhamdulillah, Melalui Program Senyum untuk Difabel, LAZ RYDHA Bersama LinkAja Hadirkan Dukungan bagi Pak Jakri untuk Meringankan Langkahnya

Alhamdulillah, Melalui Program Senyum untuk Difabel, LAZ RYDHA Bersama LinkAja Hadirkan Dukungan bagi Pak Jakri untuk Meringankan Langkahnya

Tangerang – 30 Oktober 2025. Di sebuah kampung kecil di Kecamatan Pakuhaji, hidup seorang pria tangguh bernama Pak Jakri usia 65 tahun. Sehari-harinya, beliau berjualan perlengkapan kebersihan seperti sapu, pengki, dan karpet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sejak kecil, Pak Jakri mengalami kelainan pada kaki kirinya. Meski harus berjalan terpincang, ia tak pernah menyerah untuk tetap bekerja. Namun, dalam dua tahun terakhir, kesehatannya mulai menurun. Ia mengalami gejala stroke dan gangguan pendengaran akibat efek obat yang pernah dikonsumsi.

Sebelumnya, penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp100.000 per hari saat dagangan ramai. Kini, ia lebih banyak menjaga ruko kecil tempatnya berjualan. Hidup sederhana dan sendiri setelah istrinya meninggal, Pak Jakri tetap dikelilingi kasih sayang anaknya yang setia merawat.

Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang berjuang dalam keterbatasan, LAZ RYDHA bersama aplikasi LinkAja menyalurkan bantuan berupa tongkat penopang dan paket sembako berisi beras, gula, telur, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini diharapkan bisa membantu meringankan aktivitas dan kebutuhan sehari-hari Pak Jakri.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Tidak menyangka masih ada yang peduli. Terima kasih kepada LAZ RYDHA dan LinkAja yang sudah membantu. Semoga semua kebaikan ini Allah balas dengan yang lebih baik,” tutur Pak Jakri dengan rasa syukur.

Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara lembaga zakat dan perusahaan teknologi finansial mampu membawa dampak besar bagi mereka yang membutuhkan. Melalui kerja sama seperti ini, semangat kebaikan dapat menjangkau lebih luas, menghadirkan senyum di tengah keterbatasan.

Jazakumullah khairan katsiran
Terima kasih kepada seluruh donatur dan mitra kolaborasi, termasuk LinkAja, yang telah berpartisipasi dalam program “Senyum untuk Difabel” bersama LAZ RYDHA. Semoga setiap kontribusi menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Bersinergi Menyalakan Harapan: YBM PLN Teluk Naga dan LAZ RYDHA Terangi Hati di Hari Listrik Nasional ke-80

Bersinergi Menyalakan Harapan: YBM PLN Teluk Naga dan LAZ RYDHA Terangi Hati di Hari Listrik Nasional ke-80

Sepatan 31 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-80, Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 Teluk Naga menyelenggarakan kegiatan sosial yang penuh makna.
Program ini bertujuan menyalurkan bantuan kepada anak yatim, kaum dhuafa, guru ngaji, serta pelaku usaha kecil (UMKM) yang membutuhkan.

Turut hadir dalam kegiatan ini Lembaga Amil Zakat Rumah Yatim Dhuafa Rydha, bersama perwakilan lima anak yatim binaan RYDHA, sebagai bentuk sinergi kebaikan antarlembaga dalam menebar manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Acara yang berlangsung di kantor PLN UP3 Teluk Naga Sepatan ini diawali dengan pembukaan, sambutan, serta penyaluran bantuan secara simbolis kepada para penerima manfaat. Suasana haru dan bahagia menyelimuti ruangan ketika bantuan diterima, menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun kepedulian dapat menumbuhkan senyum dan harapan baru.

Selain penyaluran bantuan, acara juga diisi dengan tausiah dan doa bersama, menambah keberkahan momen kebersamaan ini.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa energi listrik tak hanya menerangi rumah dan jalan, tetapi juga menerangi hati dan kehidupan banyak orang melalui kepedulian sosial.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada YBM PLN Teluk Naga atas kepercayaannya kepada LAZ RYDHA. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dalam menebar cahaya kebaikan di masyarakat,” ungkap perwakilan LAZ RYDHA.

Melalui sinergi antara YBM PLN Teluk Naga dan LAZ RYDHA, peringatan Hari Listrik Nasional kali ini menjadi lebih bermakna bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah gerakan nyata untuk menyalakan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Senyum Untuk Difabel: Alhamdulillah LAZ RYDHA Bersama Aplikasi LinkAja Hadirkan Kembali Senyum Pak Saepudin Dalam Memperjuangkan Hidupnya

Senyum Untuk Difabel: Alhamdulillah LAZ RYDHA Bersama Aplikasi LinkAja Hadirkan Kembali Senyum Pak Saepudin Dalam Memperjuangkan Hidupnya

Tangerang, 30 Oktober 2025 – Di tengah keterbatasan fisik akibat polio yang dideritanya sejak kecil, Bapak Saepudin menjadi sosok inspiratif yang menunjukkan makna sejati dari kemandirian dan keteguhan hati. Meski harus hidup berdua dengan putrinya yang kini duduk di bangku kelas 6 SD, beliau tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada orang lain.

Setiap hari, Bapak Saepudin membuka jasa pangkas rambut di depan rumahnya di Kampung Sarakan, Rajeg. Dengan tarif Rp15.000 per potong, penghasilannya digunakan untuk menghidupi dirinya dan sang anak. Sejak sang istri meninggal dunia satu tahun lalu, beliau memikul seluruh tanggung jawab sebagai kepala keluarga sekaligus ayah dan ibu bagi anaknya. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan fisik, semangatnya untuk tetap bekerja menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.

Melihat perjuangan tersebut, Lembaga Amil Zakat Rumah Yatim Dhuafa Rydha bersama LinkAja melalui program Senyum untuk Difabel hadir memberikan dukungan kepada Bapak Saepudin. Bantuan yang diberikan berupa satu set lengkap alat cukur baru serta paket sembako berisi 5 kg beras, 1 kg telur, 1 kg gula, 10 bungkus mie instan, 2 bungkus garam, dan 2 liter minyak goreng. Alat cukur baru ini lebih praktis karena dapat digunakan tanpa harus tersambung ke listrik, memudahkan beliau untuk bekerja dengan lebih nyaman dan efisien.

Program Senyum untuk Difabel merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian Lembaga Amil Zakat Rumah Yatim Dhuafa Rydha & LinkAja terhadap penyandang disabilitas yang tetap berjuang secara mandiri. Melalui program ini, LAZ RYDHA & LinkAja ingin menumbuhkan semangat kemandirian dan memberi dukungan agar para penyandang disabilitas dapat terus berkarya dan hidup layak.

Bapak Saepudin menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima. “Saya tidak menyangka akan diberikan alat cukur baru. Alhamdulillah, sekarang saya bisa bekerja lebih mudah. Terima kasih kepada LAZ RYDHA, LinkAja dan para donatur yang sudah peduli kepada saya dan anak saya,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Bapak Saepudin menjadi pengingat bahwa kekuatan dan ketulusan bisa tumbuh bahkan di tengah keterbatasan. Semangatnya adalah cerminan dari banyak penerima manfaat yang terus berusaha memperbaiki hidup bersama dukungan para donatur.

Jazakumullah khairan katsiran kepada seluruh donatur yang telah menjadi bagian dari kebaikan ini.
Melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui LAZ RYDHA & LinkAja, senyum dan harapan baru terus tumbuh bagi para penyandang disabilitas, yatim, dan dhuafa di berbagai daerah.

Zakat dan Orang Tua Asuh, Bantu Dhuafa Jadi Sarjana: Kisah Ana Uswatun Hasanah

Dokumentasi Ana saat menjadi Mahasiswa Universitas Indonesia (UI)

Pendidikan: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik

Pendidikan adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, membuka peluang bagi setiap individu untuk meraih impian dan memperbaiki taraf hidup. Melalui proses belajar, seseorang tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun mentalitas dan karakter yang akan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. 

 

Kisah Inspiratif: Ana Uswatun Hasanah

Salah satu bukti nyata dari kekuatan pendidikan adalah perjalanan inspiratif Ana Uswatun Hasanah, seorang anak dhuafa yang berhasil meniti karir di Jakarta berkat dukungan beasiswa pendidikan dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Rumah Yatim Dhuafa Rydha.

Sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah, Ana telah mendapatkan bantuan beasiswa dari LAZ Rydha. Selain dukungan biaya pendidikan, Ana juga menerima bantuan moral dan motivasi yang mendorongnya untuk terus berprestasi. Dengan semangat dan dedikasinya, Ana bahkan berhasil meraih juara 1 dalam Kompetisi Sains Madrasah tingkat Kabupaten.

(Dokumentasi Ana ketika di bangku Madrasah Aliyah)

Program B-BEST: Mendukung Perjalanan Pendidikan

Selama menjadi bagian dari program beasiswa B-BEST, Ana merasa mendapatkan banyak pengalaman berharga. “Banyak hal baru yang didapat, kegiatan yang membangun, relasi, motivasi, dan banyak lagi,” ujar Ana, menggambarkan betapa besar peran program ini dalam mendukung perjalanan pendidikannya. Ana juga menambahkan, “Bersyukur sekali pernah bergabung di LAZ Rydha. Terima kasih banyak atas segala supportnya. Semoga selalu lebih baik dan memberikan kebermanfaatan lebih luas.”

(Dokumentasi Ana saat wisuda Profesi Apoteker)

Peran Donatur dalam Perjalanan Ana

Selain dukungan dari lembaga, Ana juga merasa sangat berterima kasih kepada orang tua asuhnya yakni Ibu Dyah Juliastuti, yang telah memberikan bantuan baik secara moril maupun materil selama masa pendidikannya. “Ana mau ucapin terima kasih banyak atas segala support baik moril maupun materil yang sudah diberikan sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik. Bantuan ibu sangat berarti bagi saya. Mohon maaf atas segala keterbatasan Ana. Semoga Allah selalu melindungi ibu dan keluarga, memudahkan urusan ibu, dan segala harapan ibu tercapai. Terima kasih sebanyak-banyaknya Ibu dan LAZ Rydha,” ucap Ana dengan penuh haru.

Pendidikan untuk Masa Depan Anak Dhuafa

Ana hanyalah satu dari ratusan anak binaan LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha yang terdiri dari anak yatim, piatu, dan dhuafa yang terbantu melalui program beasiswa pendidikan. Dengan dana dari Zakat, Infak, dan Sedekah yang dititipkan para donatur, LAZ Rydha telah membantu banyak anak-anak kurang mampu untuk menggapai impian mereka. “Kami sangat bersyukur bisa menjadi jembatan bagi anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Kami berharap mereka dapat berdaya dan menjadi pribadi yang mandiri,” ungkap Ardi Wiranata, CEO LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha.

Mari Bersama Dukung Pendidikan Anak Bangsa

Kisah Ana Uswatun Hasanah adalah bukti nyata bahwa bantuan pendidikan bisa mengubah hidup seseorang. Dukungan dari para donatur telah menjadi cahaya harapan bagi mereka yang membutuhkan. “Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha. Setiap bantuan dari Sahabat semua adalah langkah besar bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tutup Ardi Wiranata CEO LAZ Rydha.

Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk terus mendukung pendidikan sebagai jalan menuju perubahan dan pemberdayaan yang lebih luas bagi anak-anak bangsa yang membutuhkan.

 

-S.Rahmah

 

 

 

 

Badan Bugar, Puasa Lancar: 7 Tips Olahraga Selama Ramadhan

Badan Bugar, Puasa Lancar: 7 Tips Olahraga Selama Ramadhan

Halooo sahabat Rydha, apakah ada diantara kalian yang hobby olahraga tapi takut puasanya batal? padahal berolahraga pada bulan ramadhan penting banget loh walaupun memang memiliki tantangan tersendiri karena tubuh mengalami perubahan dalam asupan makanan dan cairan. Namun, dengan beberapa tips berikut, sahabat dapat menjaga kesehatan dan tetap aktif selama berpuasa:

  1. Pilih Waktu yang Tepat: Pilih waktu yang tepat untuk berolahraga, yaitu sebelum berbuka puasa atau 30 menit sebelum sahur. Pilih waktu di mana suhu tubuh sedang dalam kondisi optimal dan energi Anda cukup untuk beraktivitas fisik.
  2. Jangan Berlebihan: Hindari olahraga yang terlalu berat atau intensitas tinggi saat berpuasa. Pilihlah olahraga ringan hingga sedang seperti jalan kaki, bersepeda santai, atau yoga yang tidak membebani tubuh secara berlebihan.
  3. Perhatikan Cairan: Pastikan Anda tetap terhidrasi dengan baik. Minumlah air putih dalam jumlah yang cukup saat berbuka puasa dan saat sahur untuk mengganti cairan yang hilang selama berolahraga.
  4. Perhatikan Nutrisi: Pastikan makanan berbuka puasa dan sahur Anda mengandung nutrisi yang cukup untuk mendukung aktivitas fisik. Pilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan serat untuk memberikan energi yang bertahan lama.
  5. Istirahat Cukup: Pastikan Anda mendapatkan istirahat yang cukup antara berolahraga dan waktu berbuka puasa atau sahur. Istirahat yang cukup membantu tubuh memulihkan energi dan mengoptimalkan hasil olahraga.
  6. Hindari Paparan Langsung Matahari: Jika memungkinkan, hindari berolahraga di bawah terik matahari langsung, terutama saat awal-awal berpuasa. Suhu yang tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan.
  7. Mulai Perlahan: Jika Anda tidak terbiasa berolahraga saat berpuasa, mulailah dengan intensitas dan durasi yang rendah terlebih dahulu, lalu tingkatkan secara bertahap seiring waktu.

Nah, karena sekarang sudah tahu tips berolahrga selama bulan ramdhan, jadi sahabat harus tetap berolahraga yah agat ibadah kita lancar tetapi tetap sehat dan bugar.

 

7 Aktivitas Yang Wajib Kamu Lakukan Selama Ramadhan Untuk Meningkatkan Produktivitas dan Memaksimalkan Ibadah

7 Aktivitas Yang Wajib Kamu Lakukan Selama Ramadhan Untuk Meningkatkan Produktivitas dan Memaksimalkan Ibadah

 

Hi Sahabat, tentunya Ramadhan tahun ini harus menjadi Ramadhan yang lebih baik dan terbaik dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk memaksimalkan Ramadhan, dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar lebih produktif dan bernilai pahala.

Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan, diantaranya adalah 7 aktivitas ini yang wajib kamu lakukan selama Ramadhan 1445 H ini.

1. Tadarus Al-Qur’an

Selama Ramadhan, Sahabat wajib banget menghidupkan Al-Qur’an minimal sehari 1 juz sehingga ketika Ramadhan usai bacaan Al-Qur’annya juga bisa dikhatamkan.

2. Shalat Tahajjud

Bagi Sahabat yang belum bisa bangun di sepertiga malam, mulai Ramadhan ini pasti akan sering bangun di sepertiga malam karena harus melaksanakan sahur. Nah, ada baiknya sahabat sebelum sahur melaksanakan tahajjud terlebih dahulu.

3. Sedekah Setiap Hari

Karena pada bulan Ramadhan setiap amal ibadah akan dilipat gandakan, begitupun nilai sedekah yang sahabat berikan. Kalau ternyata sedekah materil belum mencukupi, minimal senyum setiap saat

4. Dzikir Setiap Hari

Sebagai muslim, harusnya kita sudah terbiasa dalam hal berdzikir karena setiap aktivitas yang kita lakukan pasti ada do’a yang terucap. Oleh karena itu, mulai Ramadhan ini sahabat harus mulai mempraktikan doa-doa tersebut. Kalau belum hafal gimana? Minimal dzikir pagi dan petang yah sahabat.

5. Mengurangi Kebiasaan Buruk

Ternyata dalam hari-hari kita, banyak banget kebiasaan yang dianggap remeh tapi ternyata tidak produktif. Misalnya terlalu banyak bermain media sosial, bermain game, bahkan ngobrol dengan tidak ada ujungnya juga termasuk dalam kebiasaan tidak produktif. Oleh karena itu, mulai Ramadhan ini mari kita gunakan waktu menjadi lebih produktif dengan perbanyak ibadah.

6. Membiasakan Hidup Sehat

Banyak orang berharap bahwa dengan Ramadhan akan menurunkan berat badan dan hidup akan lebih sehat, faktanya ternyata tidak demikian karena banyak dari kita justru makan dengan tidak terukur pada waktu sahur dan berbuka sehingga mengakibatkan “kekenyangan” yang tentunya tidak baik bagi tubuh. Yuk mulai hidup sehat, minimal dengan memperhatikan asupan ketika sahur dan berbuka.

7. Membuat Jurnal Refleksi Diri

Nah, tidak kalah penting dari poin 1-6. Journaling juga penting banget untuk kita khususnya ketika Ramdhan karena kita akan bisa lebih mengukur aktivitas apa saja yang telah kita lakukan sehingga keesokan harinya kan lebih baik lagi.

Sahabat, ini cuma tujuh kegiatan yang sahabat bisa lakukan selama Ramdhan padahal masih banyak aktivitas lainnya, jadi kalau mau ditambah silahkan yah. Yuk lakukan 7 kegiatan ini sebagai challenge selama 30 hari kedepan agar Ramadhan kita tahun ini lebih maksimal.

Penuhi Ramadhan dengan berbagi kebaikan DISINI.  Jangan lupa untuk share postingan ini agar manfaatnya bisa lebih luas lagi yah sahabat.

Syarat-syarat Tobat Nasuha Menurut Surat At-Tahrim Ayat 8

Syarat-syarat Tobat Nasuha Menurut Surat At-Tahrim Ayat 8

Surat At-Tahrim ayat 8 mengandung perintah tobat nasuha, bentuk tobat yang sejati, namun disertai  tiga syarat-syarat tobat nasuha yang harus dipenuhi. Surat ini, surat ke-66 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 12 ayat dan terletak setelah surat At-Talaq dan sebelum surat Al-Mulk.

Ayat ke 8 secara khusus menurunkan perintah tobat nasuha kepada mereka yang ingin kembali kepada Allah. Allah menjanjikan surga dengan sungai-sungai mengalir bagi siapa saja yang bertobat.

Cahaya bagi mereka bersinar di depan dan di sebelah kanan, memohon kepada Tuhan untuk menyempurnakan cahaya dan mengampuni mereka.

Berikut bunyi lafal dan pembahasan mengenai tobat nasuha tersebut!

Surat At-Tahrim Ayat 8, Arab, Latin, dan Artinya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya.

Tobat, berasal dari kata “tawaba,” berarti pulang, kembali, penyesalan, atau meminta perlindungan. Ibnu Qayyim menjelaskan tobat sebagai penyesalan terhadap maksiat, meninggalkannya, dan keinginan kuat untuk tidak mengulanginya.

Rizem Aizid dalam Di Bawah Naungan ‘Arsy menyebutkan yang dinamakan dengan tobat nasuha adalah penyesalan yang sungguh-sungguh sehingga ia tidak akan mengulangi perbuatan keji yang sama.

Kalbi menyatakan bahwa tobat nasuha melibatkan penyesalan, istighfar, menjauhi dosa, dan ketenangan bahwa dosa tidak akan diulangi.

Lima Hal sebagai syarat-syarat Tobat Nasuha

Tobat nasuha pada surat At-Tahrim ayat 8 adalah tobat tertinggi dan tanpa kembalinya. Lima unsur harus dipenuhi, menurut Muhammad Syafi’ie El-Bantanie:

  1. Menyadari Kesalahan: Bertobat dimulai dengan menyadari dosa dan maksiat sebagai kesalahan yang dibenci oleh Allah.
  2. Menyesali Kesalahan: Syarat kedua adalah menyesali dosa, dengan tekad untuk tidak mengulanginya. Rasulullah SAW mengatakan, “Menyesal itu adalah tobat.”
  3. Memohon Ampun kepada Allah SWT: Setelah menyesal, seseorang harus meminta ampun kepada Allah dengan beristighfar, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada dosa yang besar dengan istighfar.”
  4. Berjanji Tidak akan Mengulanginya: Janji harus tulus dari hati nurani, bukan hanya diucapkan dengan bibir, dan diikuti dengan niat sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa.
  5. Memperbanyak Amal Saleh dan Pahala: Tanda tobat sejati adalah mengubur dosa dengan amal baik dan pahala, menunjukkan perubahan dan upaya meningkatkan ketaatan kepada Allah.

Dengan memahami dan memenuhi kelima unsur ini, seseorang dapat mencapai tobat nasuha yang sejati, membuka pintu ampunan Allah dan mengarahkan diri pada jalan yang benar.

Mau baca Inspirasi lain klik disini

10 Fenomena Jamaah Shalat Jumat Yang perlu diperbaiki

10 Fenomena Jamaah Shalat Jumat Yang perlu diperbaiki

Salat Jumat adalah momen ibadah kolektif yang sangat penting dalam agama Islam. Namun, seperti halnya dalam setiap aspek kehidupan, pelaksanaan salat Jumat juga dapat mencerminkan beberapa fenomena yang perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan dari jamaah. Berikut adalah 10 fenomena jamaah Shalat Jumat  yang sering terjadi dan seharusnya menjadi fokus perbaikan bagi jamaah shalat Jumat:

1. Keterlambatan Datang ke Masjid

Banyak jamaah yang sering terlambat datang ke masjid saat pelaksanaan salat Jumat. Padahal, Allah menegaskan pentingnya bersegera menuju masjid dalam Al-Quran. Keterlambatan ini dapat mengganggu khusyuknya ibadah dan menghormati khatib yang sudah naik mimbar.

2. Tidak Melaksanakan Mandi Jumat

Mandi Jumat adalah sunah yang dianjurkan sebelum pelaksanaan salat Jumat. Namun, fenomena ini sering diabaikan, bahkan oleh mereka yang memiliki waktu untuk melakukannya sebelum berangkat bekerja. Mandi Jumat dapat meningkatkan kebersihan dan kesakralan ibadah.

3. Kurangnya Penggunaan Minyak Wangi

Meskipun bukan kewajiban, menggunakan minyak wangi sebelum salat Jumat dianggap sebagai sunah. Ini dapat meningkatkan kebersihan personal dan menciptakan lingkungan yang menyenangkan di masjid, sehingga tidak mengganggu jamaah lainnya.

4. Menghindari Shaf Terdepan

Beberapa jamaah cenderung menghindari shaf terdepan, baik dalam salat Jumat maupun kegiatan lainnya. Meskipun shaf terdepan masih kosong, sebaiknya jamaah lebih proaktif untuk mengisi posisi tersebut, menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap ibadah.

5. Tidak Membaca Doa Masuk Masjid

Masuk masjid seharusnya diawali dengan doa. Sayangnya, banyak jamaah yang masuk tanpa berdoa, bahkan lebih disayangkan jika mereka datang terlambat dan mengabaikan adab masuk masjid.

6. Tidak Melaksanakan Salat Sunah Tahiyatul Masjid

Salat sunah tahiyatul masjid seharusnya dilakukan sebelum duduk di masjid. Meskipun tidak wajib, Rasulullah menekankan pentingnya melaksanakan salat sunah ini, bahkan lebih diutamakan daripada mendengarkan khutbah Jumat.

7. Tidur Saat Khutbah

Fenomena ini sering terlihat di berbagai masjid, dimana sebagian jamaah justru tertidur atau tidak khusyuk saat khatib berkhutbah. Ini mengurangi esensi dan makna dari pelaksanaan salat Jumat.

8. Tidak Berdoa Antara Dua Khutbah

Waktu antara dua khutbah merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Namun, banyak jamaah yang melewatkan kesempatan ini, terutama bagi yang tertidur selama khutbah.

9. Khutbah yang Terlalu Panjang

Beberapa khatib terkadang memberikan khutbah yang terlalu panjang, menyebabkan beberapa jamaah menjadi bosan atau mengantuk. Seharusnya, khatib memperhatikan durasi khutbah agar tetap efektif dan memberikan pesan yang jelas.

10. Pulang Langsung Setelah Salam

Ada fenomena di mana sebagian jamaah langsung pulang setelah salam tanpa melaksanakan doa atau salat sunah di rumah. Padahal, momen setelah salat Jumat adalah waktu yang baik untuk berdoa dan memperbanyak amalan ibadah.

itulah 10 Fenomena Jamaah Shalat Jumat Yang perlu diperbaiki. Mengenali dan berupaya memperbaiki fenomena-fenomena ini dapat meningkatkan kualitas ibadah kolektif dalam salat Jumat. Semoga dengan perhatian dan kesadaran bersama, jamaah dapat menciptakan lingkungan ibadah yang lebih baik dan penuh khushu’ (khusyuk).

Begadang Bikin Otak Lemot? Inilah Fakta yang Perlu Diwaspadai

Begadang Bikin Otak Lemot? Inilah Fakta yang Perlu Diwaspadai

Di era digital ini, banyak orang yang begadang, Padahal Begadang Bikin Otak Lemot. 5 fakta yang harus diwaspadai sebagai efek akibat yang ditimbulkan dari.

Bagi mereka yang telah membiasakan diri dengan begadang, seringkali meremehkannya, padahal terdapat banyak dampak negatif yang dapat timbul dari kebiasaan ini.

Salah satu dampak umum dari begadang adalah peningkatan risiko gangguan metabolisme yang dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh.

Namun, apakah kamu tahu bahwa kebiasaan begadang juga dapat memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan otak?

Berikut 5 fakta Begadang bikin otak lemot  yang perlu diwaspadai mengenai efek begadang terhadap kesehatan otak:

1. Gagal Fokus

Tanpa disadari, kebiasaan sering begadang dapat menyebabkan gangguan pada tingkat konsentrasi. Otak yang mengalami kelelahan cenderung kesulitan mempertahankan fokus, sehingga kinerja dalam pekerjaan atau tugas yang membutuhkan perhatian ekstra dapat terpengaruh.

2. Gangguan pada kemampuan Kognitif

Disarankan untuk mendapatkan tidur yang cukup, karena hal ini memiliki peran penting dalam proses konsolidasi memori dan pembelajaran. Kekurangan waktu tidur dapat menghambat kemampuan kognitif, menyulitkan otak untuk menyimpan informasi dengan efektif.

Begadang Bikin Otak Lemot

3. Meningkatkan Potensi Risiko Penyakit Neurodegeneratif

Dianjurkan untuk mendapatkan cukup waktu tidur, sebab kekurangan tidur dapat meningkatkan potensi risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Tidur yang tidak memadai dapat menjadi faktor risiko yang memengaruhi kesehatan otak dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit neurodegeneratif.

Ketika otak tidak mendapatkan istirahat yang cukup, kemungkinan kerusakan pada sel dan jaringan otak meningkat secara signifikan.

4. Menurunkan kapasitas Daya Ingat

Jika kebiasaan Begadang terus-menerus terjadi, hal itu dapat menyebabkan penurunan kemampuan daya ingat. Otak yang tidak mendapatkan istirahat yang cukup cenderung kesulitan mempertahankan dan mengingat informasi dengan efektif.
Faktor kelelahan yang disebabkan oleh kebiasaan begadang dapat merugikan kemampuan daya ingat, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Gangguan pada proses konsolidasi memori membuat informasi sulit diakses dan diingat dengan efektif.

5. Mengurangi Kekuatan Sistem Kekebalan Tubuh

Tidak mendapatkan cukup waktu tidur, terutama akibat kebiasaan begadang, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi karena kurangnya istirahat yang diperlukan untuk mendukung fungsi optimal sistem kekebalan.

Agar dapat menghindari kebiasaan begadang, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

  1. Tetapkan jadwal tidur yang konsisten dan patuhi dengan disiplin.
  2. Buatlah rutinitas sebelum tidur yang menenangkan untuk membantu tubuh bersiap untuk istirahat.
  3. Hindari konsumsi kafein dan alkohol sebelum tidur, karena kedua zat tersebut dapat mengganggu kualitas tidur.
  4. Pastikan kamar tidur Anda memiliki kondisi yang optimal, yaitu gelap, sejuk, dan tenang, untuk menciptakan lingkungan tidur yang nyaman.
  5. Lakukan olahraga secara teratur, karena aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan membantu mengatur ritme tidur.

 

Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan

Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan

Berikut kita akan membedah kesalahan-kesalahan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita dapat membetulkan kekeliruan yang selama ini terjadi.

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

4. Puasa, tetapi banyak tidur yang tidak perlu

Sebagian orang termotivasi dengan hadits berikut untuk banyak tidur di bulan Ramadhan,

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah doa yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan..”

Perowi hadits di atas  adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan badan) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Ibnu Rajab menerangkan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” Lihat Latho-if Al Ma’arif, 279-280.

Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.

5. Puasa, tetapi tidak shalat lima waktu

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah– pernah ditanya, “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?” Beliau rahimahullah menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. An Nasa’i no. 463, Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut termasuk ijma’ (kesepakatan) para sahabat.

‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah– (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi (no. 2622) dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy, seorang tabi’in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52.

Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.

Kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa”. Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah darinya. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17:62.

Sumber : rumaysho