LAZ Rumah Yatim Dhuafa Rydha

Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan

Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan

Berikut kita akan membedah kesalahan-kesalahan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita dapat membetulkan kekeliruan yang selama ini terjadi.

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

4. Puasa, tetapi banyak tidur yang tidak perlu

Sebagian orang termotivasi dengan hadits berikut untuk banyak tidur di bulan Ramadhan,

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah doa yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan..”

Perowi hadits di atas  adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan badan) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Ibnu Rajab menerangkan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” Lihat Latho-if Al Ma’arif, 279-280.

Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.

5. Puasa, tetapi tidak shalat lima waktu

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah– pernah ditanya, “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?” Beliau rahimahullah menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. An Nasa’i no. 463, Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut termasuk ijma’ (kesepakatan) para sahabat.

‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah– (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi (no. 2622) dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy, seorang tabi’in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52.

Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.

Kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa”. Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah darinya. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17:62.

Sumber : rumaysho

7 Hal yang harus dipersiapkan menyambut bulan Ramadhan

7 Hal yang harus dipersiapkan menyambut bulan Ramadhan

Setiap tahun menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, kita sering kali lupa akan persiapan yang harus dilakukan menytambut bulan suci Ramadha. dan amalan sunnah yang patut diketahui sebelum memasuki bulan penuh berkah tersebut. Berikui ini adalah 7 Hal yang harus dipersiapkan menyambut bulan Ramadhan, yang harus kamu ketahui.

1. Membayar hutang puasa tahun lalu

Salah satu persiapan yang penting adalah menuntaskan hutang puasa tahun sebelumnya. Sebagaimana disampaikan dalam hadis dari Ibnu Umar

عن ابن عمر ان النبي ص قال قضاء رمضان ان شاء فرق و ان شاء تابع

Dari ibnu Umar (dilaporkan ) bahwa Nabi SAW bersabda : Mengganti puasa Ramadhan itu boleh di pisah-pisah dan bila hendak disambung juga boleh (HR Ad-Daruqutni)

2.  Menanamkan Kerinduan terhadap bulan Ramadhan

Menanmkan kerinduan terhadap bulan Ramadhan dapat dilakukan melalui bacaan doa yang tulus. Dengan membaca doa, kita bisa menyampaikan keinginan dan harapan kita untuk mendapatkan keberkahan di bulan yang penuh keutamaan ini.

—اللهم بارك لنا في رجب وشعبان و بلغنا ر مضان

“ Ya Allah berkailah kami dalam Rajab dan sya’ban, serta sampaikan kami pada bulan Ramadhan”

3. Melakukan persiapan Fisik

Persiapan fisik sebelum memasuki bulan Ramadhan merupakan langkah penting untuk memastikan kesehatan dan kebugaran tubuh selama berpuasa. Menjaga kondisi fisik dan kesehatan jasmani menjadi hal yang sangat penting. Keberhasilan ibadah dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, sehingga menghindari sakit sangatlah adalah hal penting.

Untuk itu, perlu memperhatikan kondisi fisik dan jasmani sejak sekarang dengan mengurangi kebiasaan tidak sehat seperti begadang dan mengonsumsi makanan yang kurang sehat. Mulailah membiasakan diri untuk berolahraga secara rutin dan jika diperlukan, konsumsilah vitamin atau suplemen kesehatan. Dengan mengonsumsi multivitamin, tubuh dapat menjadi lebih kuat menghadapi bulan Ramadan sehingga pelaksanaan ibadah puasa dapat berjalan maksimal hingga akhir bulan

satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah adpatasi Fisik terhadap puasa dengan sering berpuasa di bulan sebelumnya, bulan Sya’ban. sebagaimana hadist yang diriwyatkan oleh Aisya.

—وما رايت رسول الله ص استكمل صيام شهر قط الا رمضان وما رايته في شهر قط اكثر منه صياما في شعبان

“Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, juga aku tidak pernah melihat bulan yang lebih banyak beliau berpuasa selain puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Ahmad)

4. Memperbaiki sikap terhadap pelaksanaan puasa Ramadhan.

  • Menghilangkan sikap acuh tak acuh.
  • Menghilangkan pandangan bahwa puasa sebagai beban yang berat.
  • Menyadari puasa sebagai kewajiban agama.
  • Menyadari bahwa puasa merupakan kebutuhan untuk memperkaya pengabdian kepada Allah.

5. Memahami Fiqh Puasa, dengan mempelajari tentang :

  • Niat Puasa.
  • Waktu Puasa.
  • Adab Sahur dan Buka Puasa.
  • Hal-hal yang wajib ditinggalkan.
  • Hal-hal yang dibolehkan dalam puasa.
  • Pembatal-pembatal puasa.
  • Amalan utama dibulan Ramadhan.

6. Memahami dan mempelajari hal-hal yang harus dihindari selama berpuasa

Mengucapkan atau melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti berbohong, memfitnah, menggosip, menipu, berbicara kasar, mencaci maki, berkumur secara berlebihan, tidak menahan hawa nafsu, dan sebagainya.

Perintah meninggalkan dusta saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

7. Memahami dan mempelajari amalan yang dianjurkan selama bulan Ramadhan.

  • Melaksanakan  qiyamul-lail atau shalat Tarawih.
  • Meningkatkan amal infaq dan sedekah.
  • Mentadaburi Al-Qur’an, membaca dan mempelajari tafsirnya
  • Melakukan i’tikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir Ramadhan.
  • dan lain sebagainya.

Itulah 7 Hal yang harus dipersiapkan menyambut bulan Ramadhan, yang perlu kita ketahui.

Amalan-amalan di bulan Sya’ban

Amalan-amalan di bulan Sya’ban

Syaban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah. Bulan ini diapit oleh dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadhan. Kendati demikian, Syaban juga memiliki keutamaan yang sayang untuk dilewatkan. berikut ini amalan-amalan di bulan Sya’ban :

Bulan Puasa Sunnah

Bulan Sya’ban menjadi bulan yang dianjurkan untuk meningkatkan puasa sunah. Rasulullah SAW, pada bulan ini, secara aktif melaksanakan puasa sunah. Bahkan, beliau hampir menjalankan puasa sunah sepanjang bulan, kecuali pada satu atau dua hari di penghujung bulan, agar tidak menyelisih waktu awal Ramadhan dengan puasa sunah yang dilakukan satu atau dua hari sebelumnya. Beberapa dalil syar’i yang menjelaskan hal ini adalah sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Puasa Rosulullah - Amalan-amalan di bulan Syaban

Dalam riwayat lain Aisyah berkata:

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانَ، ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Makna dari berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah melaksanakan puasa sunah sepanjang sebagian besar bulan Sya’ban (hingga 27 atau 28 hari) dan kemudian menghentikan puasa satu atau dua hari sebelum bulan Ramadhan. Setelah itu, umat Islam melanjutkan dengan melaksanakan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Pendekatan ini sesuai dengan hadits Aisyah yang telah disampaikan di awal artikel, dan juga sejalan dengan dalil-dalil lain seperti:

Aisyah RA melaporkan bahwa Rasulullah SAW sangat aktif berpuasa sunah pada bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa sepanjang bulan tersebut, kecuali untuk beberapa hari tertentu. (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Janganlah seseorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah memiliki kebiasaan berpuasa sunah tertentu, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud, maka dia boleh berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Bulan Kelalaian

Para ulama salaf menjelaskan hikmah dibalik kebiasaan kebijakan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban dengan merinci hikmah-hikmah di baliknya. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban diibaratkan seperti kedudukan shalat sunah qabliyah terhadap shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban dianggap sebagai persiapan yang sesuai dan penyeimbang bagi keterbatasan dalam melaksanakan puasa wajib Ramadhan.

Selain itu, hikmah lainnya disampaikan dalam hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid R.A. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW, mengapa saya tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu lebih banyak daripada bulan Sya’ban?” Rasulullah SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Bulan Menyirami Amalan-amalan Shalih

Di bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk meningkatkan amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, melaksanakan shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, serta memberikan sedekah. Agar mampu melaksanakan semua amalan tersebut dengan ringan dan konsisten, kita perlu berlatih dengan banyak melakukan praktik. Oleh karena itu, bulan Sya’ban memiliki peranan yang sangat penting sebagai waktu yang tepat untuk melatih diri dalam membiasakan melakukan amalan sunah secara teratur dan berkesinambungan. Melalui latihan tersebut, kita akan menjadi terbiasa dan merasa lebih mudah untuk melaksanakannya di bulan Ramadhan. Dengan demikian, benih iman dan amal shalih yang kita tanam akan menghasilkan takwa yang sejati.

Abu Bakar Al-Balkhi menyatakan, “Bulan Rajab adalah bulan penanaman. Bulan Sya’ban adalah bulan penyiraman tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan panen hasil tanaman.”

Ia juga menyebutkan, “Bulan Rajab seperti angin. Bulan Sya’ban seperti awan. Dan bulan Ramadhan seperti hujan.”

Jika seseorang tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di saat kebanyakan orang lalai dalam melakukan amal kebajikan, penting bagi kita untuk tidak ikut-ikutan lalai. Sebaiknya, kita segera bergegas menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-Nya sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.

Ilustrasi Amalan-amalan di bulan Sya'ban
Ilustrasi Amalan-amalan di bulan Sya’ban

Bulan Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan Sya’ban sebagai bulan latihan, pembinaan, dan persiapan diri untuk menjadi individu yang mampu sukses dalam melaksanakan amal shalih di bulan Ramadhan. Amalan-amalan di bulan Sya’ban sangat berkaitan dengan keberlanjutannya di bulan Ramadhan, Untuk mengisi bulan Sya’ban sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh setiap Muslim. Berikut ini beberapa kegiatan yang layak dilakukan:

1. Persiapan Iman

  • Segera bertaubat dari segala dosa dengan menyesali kesalahan yang telah terjadi, meninggalkan tindakan dosa tersebut saat ini, dan mempunyai tekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan.
  • Memperbanyak doa agar diberikan umur panjang, sehingga dapat menjumpai bulan Ramadhan dengan penuh kesadaran dan ibadah.
  • Meningkatkan puasa sunnah di bulan Sya’ban untuk membiasakan diri secara fisik dan spiritual. Terdapat beberapa jenis puasa sunnah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, seperti puasa Senin-Kamis setiap pekan, ditambah dengan puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Sya’ban), puasa Daud, atau puasa lebih intensif mulai dari tanggal 1-28 Sya’ban.
  • Mengintensifkan hubungan dengan Al-Qur’an dengan cara membaca lebih dari satu juz setiap hari, melibatkan diri dalam membaca buku-buku tafsir, dan merenungkan makna dalam Al-Qur’an.
  • Mendalami pengalaman spiritual shalat malam dengan melaksanakan minimal dua rakaat tahajud dan satu rakaat witir di akhir malam.
  • Menikmati keindahan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, melakukan dzikir pagi dan petang, serta melibatkan diri dalam dzikir rutin lainnya.

2. Persiapan Ilmu

  • Mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara menyeluruh, minimal dengan membaca bab puasa dalam kitab seperti “Minhajul Muslim” (karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi), “Fiqih Sunnah” (karya Syaikh Sayid Sabiq), “Shahih Fiqih Sunnah” (karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim), “Pedoman Puasa” (karya Tengku Moh. Hasbi Ash-Shidiqi), atau sumber lainnya.
  • Mendalami rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang dianjurkan atau wajib dilaksanakan di bulan Ramadhan dengan membaca buku-buku yang membahas hal tersebut, seperti “Mukhtashar Minhjaul Qashidin” (karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi), “Mau’izhatul Mu’minin” (karya Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi), atau karya-karya ulama lainnya.
  • Memperdalam pemahaman tafsir ayat-ayat hukum yang terkait dengan puasa dengan membaca kitab seperti “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim” (karya Ibnu Katsir), “Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an” (karya Al-Qurthubi), atau “Tafsir Adhwa-ul Bayan” (karya Asy-Syinqithi).
  • Mempelajari buku-buku akhlak yang dapat membantu menyiapkan jiwa untuk menyambut bulan Ramadhan.
  • Mendengarkan ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan dan pengisian bulan suci Ramadhan.
  • Muroja’ah hafalan Al-Qur’an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik untuk calon imam maupun individu yang melaksanakan shalat Tarawih sendirian di akhir malam setelah Isya di masjid.
  • Mendengarkan bacaan murattal shalat Tarawih dari para imam masjid yang terkenal keahliannya dalam bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.

3. Persiapan Dakwah

  • Menyiapkan materi-materi untuk kultum, taushiyah, ceramah, khutbah Jum’at dan dakwah bil lisan lainnya.
  • Membuat serlebaran, brosur, pamflet, majalah dinding, buletin dakwah dan lembar-lembar dakwah yang mengingatkan kaum muslimin tentang tata cara menyambut Ramadhan.
  • Mengikuti kultum, ceramah-ceramah, dan pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kita (lingkungan masjid, tempat kerja, tempat belajar-mengajar) baik sebagai pemateri atau peserta sebagai bentuk persiapan dan pembiasaan diri untuk mengikuti kegiatan serupa di bulan Ramadhan.
  • Mengadakan pesantren kilat, kursus keislaman, islamic study dan acara-cara sejenis.

4. Persiapan Keluarga

  • Menyiapkan anak-anak dan istri untuk menyambut kedatangan Ramadhan dengan mengenalkan kepada mereka persiapan-persiapan yang telah dijelaskan sebelumnya.
  • Membiasakan mereka untuk menjaga shalat lima waktu, shalat sunnah Rawatib, shalat dhuha, shalat malam (tahajud dan witir), dan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas harian.
  • Memberikan taushiyah atau kultum harian jika memungkinkan, agar keluarga dapat memperoleh motivasi dan pemahaman yang lebih dalam terkait dengan persiapan dan pentingnya bulan Sya’ban dan Ramadhan.
  • Meminimalkan hal-hal yang dapat melalaikan mereka dari amal shalih di bulan Sya’ban dan Ramadhan, seperti mengurangi atau menghindari mendengarkan musik-musik dan lagu-lagu jahiliyah, mengurangi waktu menonton TV, dan mengurangi atau menggantikan kegiatan-kegiatan lain yang tidak membawa manfaat di akhirat.
  • Menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah di bulan ini dan bulan Ramadhan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan, sehingga keluarga dapat berkontribusi dalam memberikan manfaat kepada orang lain selama bulan yang penuh berkah ini.

5. Persiapan Mental

Menyiapkan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk:

  1. Membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT:

    • Bertekad memulai lembaran baru yang bersih, penuh dengan amal ketaatan, dan berusaha mengurangi amal keburukan.
    • Memahami bahwa setiap hari di bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk meraih ampunan dan keberkahan.
  2. Membuat hari-hari di bulan Ramadhan lebih berarti:

    • Merubah rutinitas harian menjadi lebih bermakna dengan meningkatkan ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk.
    • Menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas ibadah.
  3. Meramaikan masjid:

    • Melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid terdekat.
    • Menghidupkan sunah-sunah ibadah yang terlupakan, seperti bertahan di masjid setelah Subuh, hadir di masjid sebelum adzan, bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf awal, dan menjalankan shalat sunnah serta niat I’tikaf.
  4. Membersihkan puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya:

    • Menjauhi perbuatan bertengkar, sendau gurau, dan kegiatan iseng yang tidak membawa manfaat akhirat.
    • Fokus pada ibadah dan amalan yang dapat memperkuat nilai-nilai keagamaan.
  5. Menjaga dan membiasakan sikap lapang dada dan pemaaf:

    • Memiliki hati yang luas, menerima perbedaan, dan tidak mudah tersinggung.
    • Membiasakan diri untuk selalu bersikap pemaaf terhadap kesalahan orang lain.
  6. Beramal shalih di bulan Ramadhan dan memulai banyak niat:

    • Membuat niat bertaubat, membuka lembaran hidup baru dengan Allah, memperbaiki akhlak, berpuasa ikhlas karena Allah semata, mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali, melaksanakan shalat tarawih dan witir, memperbanyak amalan sunah, mencari ilmu, berdakwah, membantu sesama, memperjuangkan agama Allah, niat umrah, niat jihad dengan harta, niat I’tikaf, dan lain sebagainya.
    • Memulai banyak niat sejak sekarang untuk mengarahkan setiap langkah dan amal ke arah yang bermakna dan bermanfaat di bulan Ramadhan.

 

6. Persiapan Jihad Melawan Hawa Nafsu

  • Membatasi hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, serta menikmati makanan-minuman yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadhan merupakan langkah kunci dalam meraih spiritualitas dan keberkahan.
  • Memberi perhatian khusus pada lisan, dengan membiasakan diri untuk selalu mengucapkan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat, serta aktif mencegah diri dari mengucapkan kata-kata keji, jorok, menggunjing, mengadu domba, dan perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat di akhirat, adalah upaya untuk memurnikan komunikasi dan menjaga atmosfer spiritual yang baik.
  • Mengendalikan hawa nafsu dari dorongan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan, kemaksiatan, dan kezaliman, menjadi tantangan penting. Ini merupakan bentuk pengendalian diri yang diperlukan agar ibadah di bulan Ramadhan dapat dilakukan dengan tulus dan murni.
  • Membiasakan diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan siap memikul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah, mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi cobaan dan tugas-tugas berat yang mungkin dihadapi.
  • Selain itu, melakukan muhasabah harian, yaitu introspeksi diri, untuk mengevaluasi sejauh mana program persiapan telah dijalankan dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya, memungkinkan seseorang untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas persiapan diri menjelang bulan Ramadhan. Ini merupakan langkah proaktif untuk menjaga konsistensi dalam beribadah dan berusaha mencapai tujuan spiritual yang telah ditetapkan.

Demikian artikel tentang Amalan-amalan di bulan Sya’ban

Tarhib Ramadhan LAZ RYDHA Bersama Santri Tahfidz RQBS

Tarhib Ramadhan LAZ RYDHA Bersama Santri Tahfidz RQBS

Kegiatan Tarhib Ramadhan LAZ RYDHA, Menyambut Bulan Puasa 2023

Alhamdulillah.. (18/03/2023) H-4 menjelang bulan suci puasa, program kegiatan tarhib ramadhan dan berbagi brosur juga jadwal imsakiyah sudah terlaksana dengan baik. Acara ini dimeriahkan dengan tampilan marawis dan hadroh oleh anak-anak yatim binaan LAZ RYDHA, sebanyak 10 kendaraan melaju dengan rute perjalanannya melintas yang berawal di LAZ RYDHA menuju Kecamatan Sepatan berlanjut ke Cadas lalu Kukun Grand Batavia kemudian melewati Rajeg dan berakhir di Kecamatan Mauk. Amilin Profesional RYDHA pun turut meramaikan kegiatan tersebut, para warga pun sangat antusias menyaksikan penampilan santriwan/i. Semoga kegiatan baik ini dapat berkelanjutan seterusnya, tujuan diadakannya kegiatan ini agar semakin banyak warga masyarakat yang mengenal RYDHA. Aamiiin

Untuk itu LAZ RYDHA mengajak seluruh masyarakat Indonesia semua untuk bersama-sama menyukseskan “Syiar Senyum Ramadhan 1444H” tahun ini dan insyaallah berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

YUK, MARI BERSAMA LAZ RYDHAMenyayangi Yatim, Memberdayakan Dhuafa, Mencetak Insan Sukses Mulia!!

Yuk Bagikan info ini :

Mari bersama kita peduli dan berbagi bahagia untuk anak-anak yatim dan dhuafa

Recent Posts
LAZ RYDHA Berbagi Paket Munggahan Ramadhan

LAZ RYDHA Berbagi Paket Munggahan Ramadhan

LAZ RYDHA Berbagi Paket Munggahan Ramadhan Yatim & Dhuafa

Alhamdulillah.. di hari jumat terakhir menuju bulan puasa (17/03/2023), telah terlaksana agenda berbagi paket munggahan dan fidyah untuk anak dan ibu yatim-dhuafa binaan LAZ RYDHA. Dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan, LAZ RYDHA semakin gencar bergerak menebar manfaat serta kebaikan yang membawa kebahagiaan dan kegembiraan yang penuh rasa syukur kepada Allah SWT juga sangat berterimakasih kepada para donatur yang senantiasa turut membantu dan berpartisipasi menitipkan Zakat, Infak & Sedekahnya kepada LAZ RYDHA.

Semoga apapun yang diberikan selalu menjadi keberkahan dunia akhirat bagi kita, Aamiin…

Untuk itu LAZ RYDHA mengajak kalian semua untuk bersama-sama menyukseskan “Syiar Senyum Ramadhan 1444H” tahun ini dan insyaallah berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

YUK, MARI BERSAMA LAZ RYDHAMenyayangi Yatim, Memberdayakan Dhuafa, Mencetak Insan Sukses Mulia!!

 

 

Yuk Bagikan info ini :

Mari bersama kita peduli dan berbagi bahagia untuk anak-anak yatim dan dhuafa

Recent Posts
Ramadhan Semakin Dekat, Maka Bergegaslah Persiapkan Zakat

Ramadhan Semakin Dekat, Maka Bergegaslah Persiapkan Zakat

Apa nih yang sudah kamu siapkan? Setelah Rajab, dan sekarang Sya’ban, lalu Ramadhan. Ramadhan tinggal menghitung hari, semakin siapkan kita untuk menyambutnya? Imam Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.” Jika kita mulai mempersiapkannya dari sekarang, insyaAllah kita akan bisa meraih keberkahan bulan suci Ramadhan. Sya’ban adalah bulannya menyirami, mari sirami penuh dengan kabikan. Selain itu, semoga Ramadhan tahun ini jadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin…

Bulan Ramadan tinggal menghitung hari selain menyambutnya dengan suka cita, penting juga untuk memanjatkan do’a loh.. seperti yang dilakukan oleh Rasulullah yang selalu berdoa ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan. Yuk bersama kita panjatkan doa dalam menyambut bulan Ramadan. Memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, agar Ramadan kali ini diberikan kelancaran dan keberkahan. Semoga ibadah yang dikerjakan di bulan Ramadan dapat meningkatkan iman Islam yang lebih dalam.

Sambut Ramadhan dengan berbagi kebaikan melalui: berbagi.lazrydha.org


Dahsyatnya Sedekah Ramadan

1. Melatih Perencanaan & Membantu dalam Kondisi Darurat

Quipperian pasti pernah dong minta sesuatu ke orangtua saat masih kecil? Misalnya seperti minta dibelikan game konsol alias playstation. Pasti orangtua kamu nggak langsung membelikan barang tersebut dan menyarankan untuk menabung terlebih dahulu agar bisa membeli barang yang kamu mau, bukan?

Dari kenangan ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita membutuhkan perencanaan seperti menabung selama rentan waktu tertentu dan berapa uang yang harus kita sisihkan setiap hari untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Dengan begini, kita secara tidak sadar memupuk keterampilan perencanaan manajemen keuangan pribadi untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Selain itu, selain melatih perencanaan, manfaat rajin menabung pun akan sangat membantu kita jika terjadi kondisi darurat. Misalnya saat harus membeli kamus seharga 600 ribu atau mungkin sakit dan butuh berobat. Dengan adanya tabungan, meski sedikit, kamu tidak perlu merepotkan orangtua lagi jika memang cukup digunakan. Keren banget kan kalau kamu bisa mengatur keuanganmu sendiri dari sedini mungkin, Quipperian?

2. Menanamkan Kesabaran

Manfaat rajin menabung yang kedua adalah bisa menanamkan kesabaran karena seperti yang dijelaskan pada poin pertama, bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita membutuhkan pengorbanan berupa uang yang disisihkan setiap hari dan waktu yang lama agar uang tersebut terkumpul.

Selain itu, latihan kesabaran ini juga nantinya sangat bermanfaat untuk kehidupan kita lho, Quipperian. Misalnya kita jadi bisa lebih sabar menunggu barang yang kita inginkan datang, bisa lebih sabar kalau ada antrian, dan lain-lain. Dengan begini, tentu saja kamu akan berkembang menjadi karakter yang lebih baik dan penuh kesabaran.

3. Terbiasa Menjadi Pribadi Displin

Quipperian, menjadi disiplin tidaklah mudah. Kalau nggak terbiasa sejak dini, hal itu akan sulit kamu lakukan di masa depan. Nah, manfaat rajin menabung sejak dini, kamu akan terbantu menjadi pribadi yang disiplin.

Misalnya kamu ingin membeli sebuah buku dan berkomitmen pada diri sendiri mau menyisihkan Rp5.000 setiap hari dari uang jajanmu. Otomatis, setiap hari kamu sudah mendisplinkan dirimu sendiri untuk menyisihkan uang 5.000 hingga cukup untuk membeli buku nanti.

Tentu saja cara seperti ini akan melatih kamu untuk jadi pribadi yang disiplin dan berkomitmen demi mencapai sesuatu. Kedisiplinan dan teguh berkomitmen ini tentu akan sangat berguna dalam kehidupan, lho, baik di dunia kuliah maupun dunia kerja nanti.

4. Memiliki Mental Sederhana dan Tidak Boros

Secara tidak langsung, manfaat rajin menabung lainnya yang akan kamu rasakan adalah kamu akan berpikir dua kali tiap kali mau mengeluarkan uang. Kamu semakin bisa membedakan mana ‘kebutuhan’ dan mana yang hanya sekadar ‘keinginan’ saja.

Tetapi jangan salah sangka, ini bukan berarti pelit, lho. Dengan terbiasa menabung, kamu akan belajar betapa pentingnya menentukan sebuah prioritas ketika hendak mengeluarkan uang.

5. Andal Menata Keuangan

Nah, kalau kamu sudah terbiasa menabung, kamu akan semakin andal menata keuanganmu, Quipperian. Kamu jadi lebih bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran mingguan atau bulananmu sehingga tidak kebablasan. Tanpa kemampuan menata keuangan, bisa-bisa peribahasa ‘lebih besar pasak daripada tiang’ terjadi dalam kehidupanmu. Kemampuan ini nantinya bisa membuat kamu lebih matang dalam mengatur keuangan.

6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

10. Pahala sedekah terus berkembang

Pahala sedekah walaupun hanya sedikit itu akan terus berkembang pahalanya hingga menjadi besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ يقبلُ الصدقةَ ، ويأخذُها بيمينِه ، فيُرَبِّيها لِأَحَدِكم ، كما يُرَبِّي أحدُكم مُهْرَه ، حتى إنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ

sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)

11. Sedekah menjauhkan diri dari api neraka

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

12. Boleh iri kepada orang yang dermawan

Iri atau hasad adalah akhlak yang tercela, namun iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanan dia, ini adalah akhlak yang terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لا حسدَ إلا في اثنتين : رجلٌ آتاه اللهُ مالًا؛ فسلَّطَ على هَلَكَتِه في الحقِّ ، ورجلٌ آتاه اللهُ الحكمةَ؛ فهو يَقضي بها ويُعلمُها

tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudia ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816)

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.

Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka  kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

‏إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi.

Subhanallah…

Ayo jangan tunda lagi…

***

Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id